Memaparkan catatan dengan label rindu. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label rindu. Papar semua catatan

Rabu, 13 Mei 2015

Rindu

Tidak lebih dari tujuh malam yang lalu,
Rindu ini dirasakan indah dan abadi.

Lalu sekelip mata tiba tiba,
Rindu ini dirasakan parah dan menyakiti.

Mengapa kamu hadir, hanya untuk pergi?

Kamu tahukan, tidak mudah untuk aku teruskan kerinduan begini?

Ahad, 26 Januari 2014

Malam itu

Malam itu, di Kebun Rupa
Aku lihat dia begitu bersahaja
Sebut namanya
Tingkah lakunya
Ketenangannya menimbulkan tanya
Siapa dia?

Irama rancak malam puisi cinta
Getar dan nada bersatu mengusik rasa
Rentak tubuhnya timbulkan tanya
Siapa dia?

Di medan ilmiah ku lihat dia
Yakin sendiri seperti yg pernah ku lalui
Setia hingga ke hujung masa
Kesungguhannya menimbulkan tanya
Siapa dia?

Aku masih tertanya.
Aku mahu tahu siapa dia.
Aku yang diselubungi soal dan tanya.
Beranikan diri bertanya.

Bagai pucuk dicita ulam mendatang
Siapa dia wahai gerangan
Terbuka luas ruang dan peluang
Bukan sekadar mengenali, mendekati, malah memahami

Saban malam menyulam waktu
Tak pernah sekalipun berani
Tanya tentang hati
Atau sudahkah dimiliki
Rela tunggu sampai pagi
Hanya ghairah bicara sejarah
Seolah sejarah begitu indah

Malam itu pabila tak jadi
Tak lena tidur termimpi mimpi
Sekali lagi memberanikan diri
Tawaran gila yang aku sendiri tak pasti

Debar rasa malam itu
Terbawa sepanjang waktu
Mahu tapi malu
Berkias beralas
Tutup hati cemas
Yang sebenarnya sudah lemas

Cukuplah seminggu.
Cukup sudah batasan waktu.
Malam puisi kedua
Mungkin medan yang tepat membebas rasa.

Tapi lidah masih kelu tuk bertanya
Cuma waktu yang panjang berikan ruang
Melihat tepat ke dalam mata
Yang selama ini terlindung di balik buku dan nota

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Adalah puisi mencurah rasa
Entah kamu sedar atau tak mendengar
Aku rasa aku sudah cukup lega melantunkannya

Memandangmu yang bersahaja
Mengukir senyum dan tawa
Aku masih takut
Tapi terlupa
Tentang beza antara kita
Yang ku temu, hanya rasa sama

Keberanianmu malam itu
Membuat aku tidur lena
Setelah sekian lama..
 
 
 
 
 
 

Jumaat, 16 September 2011

Isnin, 12 September 2011

adakah dia rindu?

saat tiba di pulau asing yang masih ku rasakan asing hingga kini, aku terdiam. merenung melalui luar jendela kapal terbang, berkira-kira apakah corak perjalanan baru yang bakal ku tempuhi? saat kaki ku melangkah menuju tempat mengambil bagasi, setiap langkah itu masih merasa berat. masih terasa penat. tertanya adakah mindaku yang tenat ini telah bersedia menghadap tawa tangis bersendiri lagi? akankah aku menyendiri lagi? lantas, ku teringatkan dia. menjenguk galaxy mini putih dan menaip laju mesej baru, memberitahu insan tersayang ketibaanku ke mari.

dari jauh, ku lihat dia... berbaju merah, berseluar hitam. rambutnya tidak sepanjang dulu. tampak lebih kemas, bagiku. dia senyum. aku juga senyum. buat pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ku rasakan senyuman bahagia yang telah pudar sekian lama. hari ini, ku rasakan otot-otot muka ku perlahan-lahan bekerja mengukir senyuman sampai ke mata. selangkah dia menghampiriku, aku terus mencium kedua tangannya. ya, aku dihambat emosi. emosi rindu yang tidak bertepi. emosi pilu yang penuh sendu. sejujurnya, mungkin saja aku memelukknya jika akal berada di lututku. namun, ku dapat rasa dia sedikit kekok, malu mungkin di hadapan temannya. tapi apa yang kurasakan saat itu, aku sendiri tidak tahu...

duduk di sebelahnya sepanjang perjalanan pulang, bagaikan mahu saja aku memegang erat tangannya. aku pandang dia, tapi mengapa senyumnya tak seperti dulu? mengapa aneh senyuman itu? tidakkah dia bahagia bertemuku? atau apa yang ku rasa, hanya aku yang rasa? entahlah, tapi mataku sukar untuk melepaskan pandangan padanya. dalam gejolak rasa yang menghambatku, tiba-tiba dia membelai kepalaku, lalu senyum padaku.

tanpa kata, tanpa suara, aku tahu. dia rindu aku. 

Rabu, 15 Jun 2011

gerhana malam ini

gerhana malam ini tak kelihatan.
langit kelam jiwa suram.
gerhana hati ini tak terbandingkan.
resah pungguk rindukan bulan.


biarkan langit yang tak selalunya cerah menjadi saksi.
apa yang manusia nanti tak selalunya berkunjung mari.






p/s: senyum terima kasihku buat si kucing belang yang ada di sisi ketika ini.