Isnin, 4 Mei 2015

Words

I'm might be too young to settle down and marry, but i'm definitely too old to be playing anymore games.

I'm too old to just be talking to someone, too old to not know what's really going on, and too old to be entertaining somebody with no intentions of making it work.

At this age, i'm only interested in consistency, stability, respect and loyalty.

-Unknown-

Lagu 3 Cinta

Saat ku tahu kita mendengarkan lagu cinta yang sama, hatiku berbisik,
"Setelah 3 Cinta yang berlalu, moga moga kamulah cinta terakhirku."

https://m.youtube.com/watch?v=JywuY7-cx10

Nota Tentang Pengkhianatan


Pengkhianatan :
Kepercayaan yang teguh tapi dirobek hingga lumpuh. Lebih parah, jika kepercayaan itu disirami dengan kata kata pujukan yang kukuh, sedangkan hakikatnya hanya pemanis lidah bertutur.

Raihlah kepercayaan dengan jujur, hanya itu jaminan rasa yang luhur. Sekali orang lain memberikan kita kepercayaan, sekali itulah kita menjanjikan harapan.

Betapa kerap kali kita dimaafkan, kerap kali jugalah kita seharusnya menghargai nilai kesabaran yang dilaburkan.

Seandainya pengkhianatan itu masih berulang, ternyata yang dikhianati bukan orang lain, tapi diri sendiri yang gemar mensabatoj masa depan.

Aku Kira Aku Sudah

Aku kira aku sudah cuba meminta kepastianmu sejak dulu tentang hal yang satu itu.

Aku kira aku telah temukan jawapan dalam setiap kata katamu untuk meyakinkan aku.

Aku kira aku telah berada dalam hidupmu, bukan untuk memadam sejarah masa lalumu, tapi untuk menjanjikan masa depan tanpa dibayangi masa lalu.

Aku kira aku tahu. Tapi sebenarnya aku tidak tahu.

Yang hatimu masih lagi mengingat dia. Sampai bila?

Mungkin sampai aku pergi dan patah hati dirobek mimpi mimpi. Lagi.

Ahad, 26 Januari 2014

Tahukah Kamu?

Tahukah kamu?

Pada hari itu, saat kamu panggil aku, aku berpura pura saja tidak melihat kamu?
Sedangkan sebenarnya, aku mahu, kamu menegur aku dulu.
Saat langkahmu mulai menghala ke arahku, jantungku degup laju,
Namun hampa, saat kamu tak ingat nama,
Dan hanya panggilku, 'ayu'?
Kamu terus mencuba, dengan nama lain pula
Sampai akhirnya kamu panggil aku, 'k.....k'
Dan menyapaku.
Mahu tak mahu, aku menoleh dan menjawab,
"iya?"


Tahukah kamu?
Saat kamu singgah menyapaku dan bertanya...
"milik siapakah gadis ini"
Hampir saja aku menjawab...
"....... ........"
Tapi kemudian aku rasa itu gila.
Lalu aku menjawab,
"milik tuhan".

Malam itu

Malam itu, di Kebun Rupa
Aku lihat dia begitu bersahaja
Sebut namanya
Tingkah lakunya
Ketenangannya menimbulkan tanya
Siapa dia?

Irama rancak malam puisi cinta
Getar dan nada bersatu mengusik rasa
Rentak tubuhnya timbulkan tanya
Siapa dia?

Di medan ilmiah ku lihat dia
Yakin sendiri seperti yg pernah ku lalui
Setia hingga ke hujung masa
Kesungguhannya menimbulkan tanya
Siapa dia?

Aku masih tertanya.
Aku mahu tahu siapa dia.
Aku yang diselubungi soal dan tanya.
Beranikan diri bertanya.

Bagai pucuk dicita ulam mendatang
Siapa dia wahai gerangan
Terbuka luas ruang dan peluang
Bukan sekadar mengenali, mendekati, malah memahami

Saban malam menyulam waktu
Tak pernah sekalipun berani
Tanya tentang hati
Atau sudahkah dimiliki
Rela tunggu sampai pagi
Hanya ghairah bicara sejarah
Seolah sejarah begitu indah

Malam itu pabila tak jadi
Tak lena tidur termimpi mimpi
Sekali lagi memberanikan diri
Tawaran gila yang aku sendiri tak pasti

Debar rasa malam itu
Terbawa sepanjang waktu
Mahu tapi malu
Berkias beralas
Tutup hati cemas
Yang sebenarnya sudah lemas

Cukuplah seminggu.
Cukup sudah batasan waktu.
Malam puisi kedua
Mungkin medan yang tepat membebas rasa.

Tapi lidah masih kelu tuk bertanya
Cuma waktu yang panjang berikan ruang
Melihat tepat ke dalam mata
Yang selama ini terlindung di balik buku dan nota

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Adalah puisi mencurah rasa
Entah kamu sedar atau tak mendengar
Aku rasa aku sudah cukup lega melantunkannya

Memandangmu yang bersahaja
Mengukir senyum dan tawa
Aku masih takut
Tapi terlupa
Tentang beza antara kita
Yang ku temu, hanya rasa sama

Keberanianmu malam itu
Membuat aku tidur lena
Setelah sekian lama..
 
 
 
 
 
 

Jumaat, 18 Oktober 2013

Melayu

Melayu yang dulu, bukanlah yang sekarang....
Dulu saudara sekarang dah seberang...
Dulu dulu dulu tiada sempadannya...
Sekarang?

Yang diatas ni petikan lagu Melayu jugak kan?

Ada orang sangat sensitif dengan 'Melayu'.
Sebab takrif Melayu baginya, berkadar langsung dengan konotosi negatif. 
Paling kurang, yang neutral, mereka melihat takrif Melayu di dalam Perlembagaan.

Sedar atau tidak, Melayu itu dinamis sifatnya.
Melayu seribu tahun lalu, tak sama dengan sekarang.
Melayu 100 tahun lalu kemuncak peralihan penakrifan.
Jadi,
kalau 100 tahun lagi takrifan Melayu sudah berbeza,
apa yang nak dihairankan?


Dalam banyak-banyak pertikaian tentang takrif Melayu, aku paling suka takrifan ini. Mudah, jelas, dan relevan. Juga jawapan kepada mereka yang terkial-kial mengenal diri atau mempertikaikan siapa yang lebih Melayu di rantau ini. Mungkin jga untuk mereka yang rasa alergi dan dimaktubkan sebagai Melayu adalah 'not so me~'. Mungkin? Ikut suka dialah. 

"Menentukan bangsa ada 3 cara, bangsa keturunan jelas sifatnya kerana diwarisi dari keluarga. Bangsa budaya ditentukan kebada budaya dan cara hidup yang disepekati menjadi amalan sesuatu kelompok manusia, meliputi bahasa, adat resam dan agama. Bangsa budaya ini anjal sifatnya dan terbuka. Bangsa politik bermaksud bangsa yang mungkin berbeza budaya dan keturunan, tetapi menganggap dirinya bangsa yang berdaulat dan memiliki tanggungjawab memelihara kedaulatan politik mereka secara bersama. "

Abdul Rahman Hj Ismail, 'Bangsa: Ke arah Ketepatan Makna dalam membicarakan Nasionalisme Melayu.'


Jadi, kalau orang tanya aku bangsa apa, aku senyum saja.
Istilah bangsa ni pun asalnya bukan dari 'orang kita'.
kita guna istilah 'orang' saja.
Orang Bajau, Orang Jawa, Orang Melayu. Kita, orang Kita.

Persetankan istilah penjajah!

Asal kau, aku, sama-sama menerima, sama-sama mengenal. Apa masalahnya?